Berita

LOKASI Perairan Pulun, Kecamatan Daik (Lingga) , Kabupaten Lingga
pada titik koordinat 0° 6.4113' S - 104° 27.4941'E.

TANGGAL 24 Juni 2018 / Sekitar jam 07.20 WIB
DAMPAK 1 korban meninggal.
(Sumber : KASATPOLAIRUD POLRES LINGGA)

II. ANALISIS METEOROLOGI
INDIKATOR KETERANGAN
1. Analisis Sinoptik
- Adanya sirkulasi udara tertutup (Eddy) di sebelah barat Sumatera
Barat menyebabkan terbentuknya pola angin netral yang identik
dengan variasi arah angin (variabel) di wilayah Sumatera Barat
dan Riau serta pola belokan angin (shearline) di wilayah Riau dan
Kepulauan Riau bagian selatan.
Pola belokan angin ini mendukung pembentukan awan-awan
konvektif terutama di wilayah Kabupaten Lingga, Karimun, Batam,
dan Bintan. (Lampiran Gambar 1).
- Berdasarkan data pengamatan synoptik (Lampiran Tabel 1) di
Stasiun Meteorologi Dabo Singkep tanggal 24 Juni 2018
dilaporkan terjadi hujan dengan intensitas ringan pada jam 06.00
– 07.00 WIB dengan kecepatan angin rata-rata 4 - 8 Knot dari
arah Barat Daya - Barat dengan suhu udara antara 24 – 25 oC.
2. Citra Radar
Cuaca
Dari data citra radar cuaca pada tanggal 24 Juni 2018 pukul 07.30
WIB (Lampiran Gambar 2) diperoleh informasi sebagai berikut:
- Terjadi hujan dengan intensitas sedang-lebat di perairan wilayah
Kabupaten Lingga (khususnya Kecamatan Senayang, Lingga,
Selayar, dan Singkep Barat).
3. Citra Satelit
Cuaca
Dari data citra satelit cuaca pada tanggal 24 Juni 2018 (Lampiran
Gambar 3) diperoleh informasi sebagai berikut:
- Citra Satelit pada huruf a sampai huruf d pada jam 06.30 WIB
hingga pukul 08.00 WIB menunjukkan adanya liputan awan
Cumulonimbus yang berpotensi menghasilkan hujan lebat disertai
petir dan angin kencang di wilayah Kabupaten Lingga.
4. Data Analisis
Tinggi Gelombang
Laut
Dari data analisis tinggi gelombang laut pada tanggal 24 Juni
2018 (Lampiran Gambar 4) diperoleh informasi sebagai berikut:
- Tinggi gelombang laut umumnya berkisar antara 0.1 – 0.5 meter di
wilayah perairan Kabupaten Lingga dan sekitarnya.
III. KESIMPULAN
- Keadaan cuaca di wilayah Kabupaten Lingga pada saat kejadian umumnya hujan ringanlebat
dengan liputan awan Cumulonimbus yang meluas. Awan ini berpotensi menghasilkan
angin kencang (gusty) yang dapat menyebabkan peningkatan tinggi gelombang laut di
lokasi terdampak.

I. ANALISIS METEOROLOGI
BULAN
ANALISIS
JANUARI 2016
1. Kejadian hujan di Dabo Singkep secara umum berada pada kisaran normal terhadap rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Dabo Singkep sebesar 207,5 mm (Lampiran Tabel 1).
2. Untuk kondisi atmosfer di bulan Januari 2016 adalah sebagai berikut: MJO pada bulan Januari berada pada fase 7 hingga dengan dominasi sifat sedang hingga kuat pada perambatannya. Wilayah Indonesia yang berada fase 3 sampai 5 terlewati oleh perambatan MJO pada bulan Januari. Aktivitas MJO lemah hingga sedang mulai pertengahan hingga akhir bulan Januari 2016 di fase 3 berdampak pada penambahan curah hujan di wilayah Indonesia khusunya bagian barat.
3. Secara umum nilai OLR pada bulan Januari bernilai relatif rendah di wilayah Indonesia bagian barat termasuk Kepulauan Riau. Nilai OLR yang semakin kecil ini menunjukkan bahwa semakin banyak tutupan awan konvektif di wilayah tersebut. Kondisi rata-rata suhu muka laut di wilayah perairan sekitar Indonesia termasuk Kepulauan Riau pada bulan Januari 2016 berkisar antara 28.00C hingga 32.00C. Suhu muka laut yang hangat (>27.00C) mengindikasikan pasokan uap air yang lebih banyak. Hal tersebut berpotensi meningkatkan terjadinya pembentukan awan-awan konvektif sehingga berpotensi menyebabkan terjadinya hujan. Nilai anomali Suhu Muka Laut di wilayah perairan Indonesia secara umum bernilai positif, termasuk Kepulauan Riau sebesar 2.0 – 3.0 terhadap normalnya hal ini menunjukan pada bulan Januari 2016 kondisi suhu muka laut berada pada nilai diatas normalnya. Kondisi ini juga memberikan andil dalam proses pembentukan awan-awan konvektif di wilayah Kepulauan Riau sehingga total curah hujan cukup tinggi di bulan Januari 2016 dan tidak berbeda jauh dengan Desember 2015.
FEBRUARI 2016
1. Kejadian hujan di Dabo Singkep secara umum berada pada kisaran atas normal terhadap rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Dabo Singkep sebesar 343,5 mm (Lampiran Tabel 1).
2. Analisis kondisi atmosfer pada bulan Februari 2016 sebagai berikut: MJO berada pada fase 3 hingga 7 dengan dominasi sifat sedang hingga kuat pada perambatannya. Wilayah Indonesia yang berada fase 3 sampai 5 terlewati oleh perambatan MJO pada awal hingga pertengahan bulan Februari yang menyebabkan penambahan curah hujan di wilayah Indonesia khususnya bagian barat. Keberadaan MJO ini juga dibuktikan
dengan rendahnya nilai OLR di wilayah Indonesia termasuk Kepulauan Riau yang mengindikasikan cukup banyaknya tutupan awan konvektif.
3. Pasokan uap air di udara yang menjadi bahan pembentukan awan-awan terindikasi masih cukup banyak tersedia diatas wilayah Indonesia selama bulan Februari 2016. Hal ini diketahui dari hangatnya perairan Indonesia termasuk Kepulauan Riau dengan anomali suhu muka laut positif. Namun fenomena El Nino kuat dan kondisi angin yang kencang menyebabkan terganggunya proses pembentukan hujan. Kondisi ini juga memberikan andil dalam proses pembentukan awan-awan konvektif di wilayah Kepulauan Riau sehingga total curah hujan cukup tinggi di bulan Februari 2016 dan lebih tinggi dibandingkan dengan bulan Januari 2016.
MARET 2016
1. Kejadian hujan di Dabo Singkep secara umum berada pada kisaran bawah normal terhadap rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Dabo Singkep sebesar 138,6 mm (Lampiran Tabel 1).
2. Analisis kondisi atmosfer pada bulan Maret 2016 sebagai berikut: MJO berada pada fase 8 hingga 7 dengan dominasi sifat sedang hingga kuat pada perambatannya. Wilayah Indonesia yang berada fase 3 sampai 5 terlewati oleh perambatan MJO pada pertengahan bulan Maret yang dapat menyebabkan penambahan curah hujan di wilayah Indonesia khususnya bagian barat. Namun, untuk nilai OLR di wilayah Kepulauan Riau bernilai cukup tinggi yang mengindikasikan sedikitnya tutupan awan konvektif.
3. Pasokan uap air di udara yang menjadi bahan pembentukan awan-awan terindikasi masih cukup tersedia diatas wilayah Indonesia selama bulan Maret 2016. Hal ini diketahui dari hangatnya perairan Indonesia termasuk Kepulauan Riau dengan anomali suhu muka laut positif. Akan tetapi bila dibandingkan dengan wilayah Indonesia lainnya, khusunya wilayah Indonesia bagian selatan, Kepulauan Riau memiliki anomali suhu muka laut yang lebih kecil.
4. Fenomena El Nino sedang, kelembapan udara yang rendah di lapisan atas serta kecepatan angin yang kencang menyebabkan terganggunya proses pembentukan hujan. Kondisi ini yang kurang mendukung dalam proses pembentukan awan-awan konvektif di wilayah Kepulauan Riau sehingga total curah hujan di bulan Maret 2016 tidak terlalu tinggi dan lebih rendah bila dibandingkan dengan bulan Februari 2016.
APRIL 2016
1. Kejadian hujan di Dabo Singkep secara umum berada pada kisaran normal terhadap rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Dabo Singkep sebesar 199,3 mm (Lampiran Tabel 1).
2. Analisis kondisi atmosfer pada bulan April 2016 sebagai berikut: MJO berada pada fase 1 hingga 8 dengan dominasi sifat lemah. Wilayah Indonesia yang berada fase 3 sampai 5 terlewati oleh perambatan MJO pada pertengahan bulan April yang dapat menyebabkan penambahan curah hujan di wilayah Indonesia khususnya bagian barat. Namun, karena sifatnya lemah dan nilai OLR di wilayah Kepulauan Riau bernilai cukup tinggi
mengindikasikan sedikitnya tutupan awan konvektif.
3. Pasokan uap air di udara yang menjadi bahan pembentukan awan-awan terindikasi masih cukup tersedia diatas wilayah Indonesia selama bulan April 2016. Hal ini diketahui dari hangatnya perairan Indonesia termasuk Kepulauan Riau dengan anomali suhu muka laut positif. Akan tetapi bila dibandingkan dengan wilayah Indonesia lainnya, khusunya wilayah Indonesia bagian selatan, Kepulauan Riau memiliki anomali suhu muka laut yang lebih kecil.
4. Fenomena El Nino lemah, kecepatan angin yang lemah menyebabkan potensi pertumbuhan awan mendukung dalam proses pembentukan hujan. Namun, kondisi kelembaban udara atas yang rendah menyebabkan curah hujan tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan normal curah hujan bulan April dan penyebaran hujan yang tidak merata. Secara umum total curah hujan di bulan April 2016 lebih tinggi bila dibandingkan dengan bulan Maret 2016.
MEI 2016
1. Kejadian hujan di Dabo Singkep secara umum berada pada kisaran atas normal terhadap rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Dabo Singkep sebesar 306,8 mm (Lampiran Tabel 1).
2. Analisis kondisi atmosfer pada bulan Mei 2016 sebagai berikut: MJO berada pada fase 1 hingga 5 dengan dominasi sifat Kuat. Wilayah Indonesia yang berada fase 3 sampai 5 terlewati oleh perambatan MJO pada pertengahan bulan Mei yang dapat menyebabkan penambahan curah hujan di wilayah Indonesia khususnya Indonesia bagian Barat. Hal ini juga didukung oleh nilai OLR di wilayah Kepulauan Riau yang bernilai negatif yang mengindikasikan terdapat banyak tutupan awan konvektif.
3. Pasokan uap air di udara yang menjadi bahan pembentukan awan-awan terindikasi masih cukup tersedia diatas wilayah Indonesia selama bulan Meil 2016. Hal ini diketahui dari hangatnya perairan Indonesia termasuk Kepulauan Riau dengan anomali suhu muka laut positif. Oleh karenanya, secara umum keadaan seperti ini banyak menghasilkan uap air untuk pembentukan awan termasuk di wilayah Kepulauan Riau.
4. Fenomena El Nino lemah, kondisi kelembaban udara atas yang cukup tinggi serta kecepatan angin yang lemah menyebabkan potensi pertumbuhan awan mendukung dalam proses pembentukan hujan. Total curah hujan di bulan Mei 2016 lebih tinggi bila dibandingkan dengan bulan April 2016.
JUNI 2016
1. Kejadian hujan di Dabo Singkep secara umum berada pada kisaran normal terhadap rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Dabo Singkep sebesar 248,2 mm (Lampiran Tabel 1).
2. Analisis kondisi atmosfer pada bulan Juni 2016 sebagai berikut: MJO berada pada fase 7 hingga 5 dengan dominasi sifat Kuat. Wilayah Indonesia yang berada fase 3 sampai 5 terlewati oleh perambatan MJO pada pertengahan bulan Juni yang dapat menyebabkan penambahan curah hujan di wilayah Indonesia khususnya Indonesia bagian Barat. Hal ini juga didukung oleh nilai OLR di wilayah Kepulauan Riau yang bernilai negatif yang mengindikasikan terdapat banyak tutupan awan konvektif.
3. Pasokan uap air di udara yang menjadi bahan pembentukan awan-awan terindikasi masih cukup tersedia diatas wilayah Indonesia selama bulan Jun 2016. Hal ini diketahui dari hangatnya perairan Indonesia termasuk Kepulauan Riau dengan anomali suhu muka laut positif. Oleh karenanya, secara umum keadaan seperti ini banyak menghasilkan uap air untuk pembentukan awan termasuk di wilayah Kepulauan Riau.
4. Indeks Dipole Mode negatif juga menyebabkan bertambahnya pertumbuhan awan – awan konvektif di wilayah Indonesia bagian barat termasuk wilayah Kepulauan Riau. Kondisi kelembaban udara atas yang cukup tinggi serta kecepatan angin yang lemah menyebabkan potensi pertumbuhan awan mendukung dalam proses pembentukan hujan. Total curah hujan di bulan Juni 2016 lebih rendah bila dibandingkan dengan bulan Mei 2016.
JULI 2016
1. Kejadian hujan di Dabo Singkep secara umum berada pada kisaran atas normal terhadap rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Dabo Singkep sebesar 314.4 mm (Lampiran Tabel 1).
2. MJO berada pada fase 7 hingga 3 dengan dominasi sifat lemah hingga kuat. Wilayah Indonesia yang berada pada fase 3 sampai 5 terlewati oleh perambatan MJO pada akhir bulan Juli dengan sifat lemah sehingga tidak mendukung terhadap penambahan curah hujan di wilayah Indonesia khususnya Indonesia bagian Barat. Namun Pasokan uap air di udara yang menjadi bahan pembentukan awan-awan terindikasi masih cukup tersedia diatas wilayah Indonesia selama bulan Juli 2016. Hal ini diketahui dari hangatnya perairan Indonesia termasuk Kepulauan Riau dengan anomali suhu muka laut positif. Oleh karenanya, secara umum keadaan seperti ini banyak menghasilkan uap air untuk pembentukan awan termasuk di wilayah Kepulauan Riau.
3. Indeks Dipole Mode yang bernilai negatif juga cukup signifikan dalam menambah peluang pertumbuhan awan di wilayah Indonesia bagian barat termasuk wilayah Kepulauan Riau. Terlihat dari nilai OLR yang bernilai cukup kecil di wilayah Kepulauan Riau yang mengindikasikan terdapat banyak tutupan awan konvektif selama bulan Juli 2016. Evaluasi curah hujan bulan Juli 2016 berada diatas normal akibat adanya pola konvergensi angin yang memperbanyak pembentukan awan-awan konvektif.
AGUSTUS 2016
1. Kejadian hujan di Dabo Singkep secara umum berada pada kisaran atas normal terhadap rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Dabo Singkep sebesar 381.6 mm (Lampiran Tabel 1).
2. MJO berada pada fase 5 hingga 8 dengan sifat lemah hingga kuat. Wilayah Indonesia yang berada pada fase 3 sampai 5 menandakan bahwa Indonesia tidak terlewati oleh perambatan MJO pada bulan Agustus sehingga tidak mendukung terhadap penambahan curah hujan di wilayah Indonesia khususnya Indonesia bagian Barat. Namun, pasokan uap air di udara yang menjadi bahan pembentukan awan-awan terindikasi masih cukup tersedia diatas wilayah Indonesia selama bulan Agustus 2016. Hal ini diketahui dari hangatnya perairan Indonesia termasuk Kepulauan Riau dengan anomali suhu muka laut
positif. Oleh karenanya, secara umum keadaan seperti ini banyak menghasilkan uap air untuk pembentukan awan termasuk di wilayah Kepulauan Riau.
3. Indeks Dipole Mode yang bernilai negatif juga cukup signifikan dalam menambah peluang pertumbuhan awan di wilayah Indonesia bagian barat termasuk wilayah Kepulauan Riau. Terlihat dari nilai OLR yang bernilai cukup kecil di wilayah Kepulauan Riau yang mengindikasikan terdapat banyak tutupan awan konvektif selama bulan Agustus 2016. Hal ini menjadi salah satu faktor evaluasi curah hujan bulan Agustus 2016 berada di atas normalnya.
SEPTEMBER 2016
1. Kejadian hujan di Dabo Singkep secara umum berada pada kisaran normal terhadap rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Dabo Singkep sebesar 212.9 mm (Lampiran Tabel 1).
2. Perambatan MJO di wilayah Indonesia dengan sifat kuat pada pertengahan bulan September dan nilai IOD negatif pada akhir bulan September berdampak pada penambahan curah hujan dan peluang pertumbuhan awan di wilayah Indonesia khususnya Indonesia bagian Barat, termasuk wilayah Kepulauan Riau.
3. Didukung dengan nilai SOI (Southern Oscillation Index) selama bulan September yang positif sehingga menambah pasokan uap air sebagai pembentuk hujan di wilayah Indonesia termasuk di Kepulauan Riau. Terlihat dari nilai OLR pada bulan September yang mengindikasikan bahwa tutupan awan konvektif di wilayah Kepulauan Riau pada bulan September 2016 cukup banyak. Akan tetapi karakteristik wilayah Kepulauan Riau yang memiliki faktor lokal yang cukup kuat menyebabkan hujan yang terjadi bersifat lokal dan tidak merata di semua tempat.
OKTOBER 2016
1. Kejadian hujan di Dabo Singkep secara umum berada pada kisaran atas normal terhadap rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Dabo Singkep sebesar 260,9 mm (Lampiran Tabel 1).
2. Perambatan MJO di wilayah Indonesia dengan sifat kuat terjadi pada awal bulan Oktober sehingga berdampak pada penambahan curah hujan di wilayah Indonesia khususnya Indonesia bagian Barat, termasuk wilayah Kepulauan Riau. Dapat terlihat dari nilai OLR yang cukup besar yang mengindikasikan bahwa tutupan awan konvektif di wilayah Kepulauan Riau cukup banyak. Akan tetapi nilai SST Nino 3.4, SOI dan IOD yang berada pada kondisi Netral kurang memberikan pengaruh terhadap penambahan maupun pengurangan pasokan uap air dan peluang pertumbuhan awan di wilayah Indonesia bagian barat termasuk wilayah Kepulauan Riau selama bulan Oktober. Evaluasi curah hujan bulan Oktober 2016 berada diatas normal akibat adanya perambatan MJO yang memperbanyak pembentukan awan-awan konvektif.
NOVEMBER 2016
1. Kejadian hujan di Dabo Singkep secara umum berada pada kisaran normal terhadap rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Dabo Singkep sebesar 310,2 mm (Lampiran Tabel 1).
2. Perambatan MJO di wilayah Indonesia dengan sifat kuat hingga lemah terjadi pada bulan November sehingga berdampak pada penambahan curah hujan di wilayah Indonesia khususnya
Indonesia bagian Barat, termasuk wilayah Kepulauan Riau. Dapat terlihat dari nilai OLR yang kecil mengindikasikan bahwa tutupan awan konvektif di wilayah Kepulauan Riau cukup banyak. Akan tetapi nilai SST Nino 3.4, SOI dan IOD yang berada pada kondisi Netral kurang memberikan pengaruh terhadap penambahan maupun pengurangan pasokan uap air dan peluang pertumbuhan awan di wilayah Indonesia bagian barat termasuk wilayah Kepulauan Riau selama bulan November.
DESEMBER 2016
1. Kejadian hujan di Dabo Singkep secara umum berada pada kisaran bawah normal terhadap rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Dabo Singkep sebesar 155,9 mm (Lampiran Tabel 1).
2. Selama bulan Desember, perambatan MJO di Indonesia bersifat lemah. Nilai IOD, ENSO, SST 3.4 serta SOI yang berada pada kondisi netral juga menyebabkan kurangnya peluang pertumbuhan awan serta penambahan curah hujan di wilayah Indonesia bagian barat termasuk wilayah Kepulauan Riau selama bulan Desember. Namun kondisi perairan di Indonesia yang masih cukup hangat selama bulan Desember masih menunjang untuk menghasilkan uap air untuk pembentukan awan.
JANUARI 2017
1. Kejadian hujan di Dabo Singkep secara umum berada pada kisaran bawah normal terhadap rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Dabo Singkep sebesar 108,7 mm (Lampiran Tabel 1).
2. Selama bulan Januari, perambatan MJO di Indonesia bersifat lemah hingga kuat di akhir bulan. Sehingga pengaruh pertumbuhan awan cukup signifikan di akhir bulan Januari. Nilai IOD, ENSO, NINO 3.4 serta SOI yang berada pada kondisi netral menyebabkan kurangnya peluang pertumbuhan awan serta penambahan curah hujan di wilayah Indonesia bagian barat termasuk wilayah Kepulauan Riau. Hal ini menjadi faktor evaluasi curah hujan bulan Januari 2017 berada di bawah normalnya. Total curah hujan di bulan Januari 2017 lebih rendah bila dibandingkan dengan bulan Desember 2016.
FEBRUARI 2017
1. Kejadian hujan di Dabo Singkep secara umum berada pada kisaran bawah normal terhadap rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Dabo Singkep sebesar 65,6 mm (Lampiran Tabel 1).
2. Selama bulan Februari, Indonesia tidak terlewati oleh perambatan MJO sehingga tidak memberikan pengaruh pada penambahan curah hujan di wilayah Indonesia khususnya Indonesia bagian Barat, termasuk wilayah Kepulauan Riau. Nilai IOD, ENSO, serta SOI yang berada pada kondisi netral dan didukung dengan kondisi angin yang cukup kuat menyebabkan kurangnya peluang pertumbuhan awan serta penambahan curah hujan di wilayah Indonesia bagian barat termasuk wilayah Kepulauan Riau. Hal ini menjadi faktor evaluasi curah hujan bulan Februari 2017 berada di bawah normalnya. Total curah hujan di bulan Februari 2017 lebih rendah bila dibandingkan dengan bulan Januari 2017.
MARET 2017
1. Kejadian hujan di Dabo Singkep secara umum berada pada kisaran bawah normal terhadap rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Dabo Singkep sebesar 67,7 mm (Lampiran
Tabel 1).
2. Selama bulan Maret Indonesia terlewati oleh perambatan MJO sehingga memberikan pengaruh pada penambahan curah hujan di wilayah Indonesia khususnya Indonesia bagian Barat, termasuk wilayah Kepulauan Riau. Kondisi perairan di Indonesia yang juga masih cukup hangat turut menunjang untuk menghasilkan uap air untuk pembentukan awan. Namun nilai IOD, ENSO, serta SOI yang berada pada kondisi netral dan didukung dengan kondisi angin yang masih cukup kuat menyebabkan kurangnya peluang pertumbuhan awan serta penambahan curah hujan di wilayah Indonesia bagian barat termasuk wilayah Kepulauan Riau. Hal ini menjadi faktor evaluasi curah hujan bulan Maret 2017 berada di bawah normalnya. Total curah hujan di bulan Maret 2017 tidak berbeda jauh bila dibandingkan dengan bulan Februari 2017.
APRIL 2017
1. Kejadian hujan di Dabo Singkep secara umum berada pada kisaran atas normal terhadap rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Dabo Singkep sebesar 285,1 mm (Lampiran Tabel 1).
2. Selama bulan April Indonesia terlewati oleh perambatan MJO sehingga memberikan pengaruh pada penambahan curah hujan di wilayah Indonesia khususnya Indonesia bagian Barat, termasuk wilayah Kepulauan Riau. Kondisi perairan di Indonesia yang juga masih cukup hangat untuk menghasilkan uap air serta kondisi angin yang lemah turut menunjang dalam pembentukan awan. Hal ini yang menjadi faktor evaluasi curah hujan bulan April 2017 berada di atas normalnya. Namun nilai IOD, ENSO, serta SOI yang berada pada kondisi netral tidak terlalu berpengaruh terhadap penambahan atau pengurangan peluang pertumbuhan awan serta penambahan curah hujan di wilayah Indonesia bagian barat termasuk wilayah Kepulauan Riau. Total curah hujan di bulan April 2017 lebih tinggi bila dibandingkan dengan bulan Maret 2017.
MEI 2017
1. Kejadian hujan di Dabo Singkep secara umum berada pada kisaran normal terhadap rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Dabo Singkep sebesar 229,8 mm (Lampiran Tabel 1).
2. Di akhir bulan Mei Indonesia terlewati oleh perambatan MJO sehingga memberikan pengaruh pada penambahan curah hujan di wilayah Indonesia khususnya Indonesia bagian Barat, termasuk wilayah Kepulauan Riau. Kondisi perairan di Indonesia yang juga masih cukup hangat turut menunjang untuk menghasilkan uap air untuk pembentukan awan. Namun nilai IOD, ENSO, serta SOI yang berada pada kondisi netral sehingga tidak memberikan pengaruh terhadap penambahan maupun pengurangan curah hujan di wilayah Kepulauan Riau. Hal ini yang menjadi faktor evaluasi curah hujan bulan Mei 2017 berada pada normalnya.
JUNI 2017
1. Kejadian hujan di Dabo Singkep secara umum berada pada kisaran bawah normal terhadap rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Dabo Singkep sebesar 183.7 mm (Lampiran Tabel 1).
2. Pada bulan Juni nilai SOI berada pada kondisi El Nino lemah sehingga mempengaruhi turunnya curah hujan di Indonesia khususnya di bagian timur. Kondisi perairan di Indonesia yang
juga masih cukup hangat turut menunjang untuk menghasilkan uap air untuk pembentukan awan. Namun nilai IOD dan ENSO yang berada pada kondisi netral sehingga tidak memberikan pengaruh terhadap penambahan maupun pengurangan curah hujan di wilayah Kepulauan Riau. Hal ini yang menjadi faktor evaluasi curah hujan bulan Juni 2017 berada pada bawah normalnya.
JULI 2017
1. Kejadian hujan di Dabo Singkep secara umum berada pada kisaran atas normal terhadap rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Dabo Singkep sebesar 366.1 mm (Lampiran Tabel 1).
2. Pada bulan Juli wilayah Indonesia terlewati oleh perambatan MJO dengan sifat kuat pada awal bulan sehingga cukup mempengaruhi turunnya curah hujan di Indonesia. Kondisi perairan di Indonesia yang juga masih cukup hangat turut menambah uap air untuk pembentukan awan. Hal ini yang menjadi faktor evaluasi curah hujan bulan Juli 2017 berada pada atas normalnya. Namun nilai IOD, SOI dan ENSO berada pada kondisi netral sehingga tidak memberikan pengaruh terhadap penambahan maupun pengurangan curah hujan di wilayah Kepulauan Riau.
AGUSTUS 2017
1. Kejadian hujan di Dabo Singkep secara umum berada pada kisaran atas normal terhadap rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Dabo Singkep sebesar 440,4 mm (Lampiran Tabel 1).
2. Pada bulan Agustus wilayah Indonesia terlewati oleh perambatan MJO dengan sifat lemah pada awal dan kuat pada akhir bulan sehingga cukup mempengaruhi turunnya curah hujan di Indonesia. Kondisi perairan di Indonesia yang juga masih cukup hangat turut menambah uap air untuk pembentukan awan. Hal ini yang menjadi faktor evaluasi curah hujan bulan Agustus 2017 berada pada atas normalnya. Namun nilai IOD, SOI dan ENSO berada pada kondisi netral sehingga tidak memberikan pengaruh terhadap penambahan maupun pengurangan curah hujan di wilayah Kepulauan Riau.
SEPTEMBER 2017
1. Kejadian hujan di Dabo Singkep secara umum berada pada kisaran atas normal terhadap rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Dabo Singkep sebesar 338,1 mm (Lampiran Tabel 1).
2. Pada bulan September wilayah Indonesia terlewati oleh perambatan MJO dengan sifat kuat pada pertengahan bulan sehingga cukup mempengaruhi terhadap penambahan curah hujan di wilayah Indonesia khususnya Kepulauan Riau. Kondisi perairan di Indonesia yang juga masih cukup hangat turut menambah uap air untuk pembentukan awan-awan. Hal ini yang menjadi faktor evaluasi curah hujan bulan September 2017 berada pada atas normalnya. Namun nilai IOD, SOI dan ENSO berada pada kondisi netral sehingga tidak cukup memberikan pengaruh terhadap penambahan maupun pengurangan curah hujan di wilayah Kepulauan Riau pada bulan September.
OKTOBER 2017
1. Kejadian hujan di Dabo Singkep secara umum berada pada kisaran atas normal terhadap rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Dabo Singkep sebesar 405,9 mm (Lampiran Tabel 1).
2. Pada bulan Oktober wilayah Indonesia terlewati oleh perambatan MJO pada awal bulan sehingga cukup mempengaruhi terhadap penambahan curah hujan di wilayah Indonesia khususnya Kepulauan Riau. Kondisi perairan di
Indonesia yang juga masih cukup hangat turut menambah uap air untuk pembentukan awan-awan. Hal ini yang menjadi faktor evaluasi curah hujan bulan Oktober 2017 berada pada atas normalnya. Namun nilai IOD, SOI dan ENSO berada pada kondisi netral sehingga tidak cukup memberikan pengaruh terhadap penambahan maupun pengurangan curah hujan di wilayah Kepulauan Riau pada bulan Oktober.
NOVEMBER 2017
1. Kejadian hujan di Dabo Singkep secara umum berada pada kisaran atas normal terhadap rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Dabo Singkep sebesar 346,8 mm (Lampiran Tabel 1).
2. Pada bulan November wilayah Indonesia terlewati oleh perambatan MJO dengan pada awal bulan sehingga cukup mempengaruhi terhadap penambahan curah hujan di wilayah Indonesia khususnya Kepulauan Riau. Kondisi perairan di Indonesia yang juga masih cukup hangat turut menambah uap air untuk pembentukan awan-awan. Hal ini yang menjadi faktor evaluasi curah hujan bulan November 2017 berada pada atas normalnya. Namun nilai IOD, SOI dan ENSO berada pada kondisi netral sehingga tidak cukup memberikan pengaruh terhadap penambahan maupun pengurangan curah hujan di wilayah Kepulauan Riau pada bulan November.
DESEMBER 2017
1. Kejadian hujan di Dabo Singkep secara umum berada pada kisaran bawah normal terhadap rata-ratanya. Jumlah curah hujan di wilayah Dabo Singkep sebesar 86,8 mm (Lampiran Tabel 1).
2. Pada bulan Desember wilayah Indonesia terlewati oleh perambatan MJO dengan sifat kuat pada awal bulan sehingga cukup mempengaruhi terhadap penambahan curah hujan di wilayah Indonesia khususnya Kepulauan Riau. Kondisi perairan di Indonesia yang juga masih cukup hangat turut menambah uap air untuk pembentukan awan-awan. Namun nilai IOD, SOI dan ENSO berada pada kondisi netral sehingga tidak cukup memberikan pengaruh terhadap penambahan maupun pengurangan curah hujan di wilayah Kepulauan Riau pada bulan Desember. Hal ini menjadi salah satu faktor evaluasi curah hujan bulan Agustus 2016 berada di atas normalnya. Total curah hujan di bulan Desember 2017 lebih rendah bila dibandingkan dengan bulan November 2017
LAMPIRAN
Tabel 1. Sifat Hujan Bulanan Tahun 2016 sampai Tahun 2017 di Stasiun Meteorologi Dabo Singkep
TAHUN
BULAN
JUMLAH CURAH HUJAN (mm)
RATA-RATA 30 TAHUN (mm)
SIFAT HUJAN
2016
Jan
207.5
223.1
Normal
Feb
343.5
103.6
Atas Normal
Mar
138.6
202.2
Bawah Normal
Apr
199.3
231.5
Normal
Mei
306.8
264.3
Atas Normal
Jun
248.2
216.3
Normal
Jul
314.4
223.9
Atas Normal
Agt
381.6
216.4
Atas Normal
Sep
212.9
200.0
Normal
Okt
260.9
205.8
Atas Normal
Nov
310.2
269.9
Normal
Des
155.9
236.5
Bawah Normal
2017
Jan
108.7
223.1
Bawah Normal
Feb
65.6
103.6
Bawah Normal
Mar
67.7
202.2
Bawah Normal
Apr
285.1
231.5
Atas Normal
Mei
229.8
264.3
Normal
Jun
183.7
216.3
Bawah Normal
Jul
366.1
223.9
Atas Normal
Agt
440.4
216.4
Atas Normal
Sep
338.1
200.0
Atas Normal
Okt
405.9
205.8
Atas Normal
Nov
346.8
269.9
Atas Normal
Des
86.8
236.5
Bawah Normal
Analisis dilakukan oleh :
Pande Made Rony Kurniawan, SST
Batam, 06 Juli 2018
Mengetahui,
Kasi Data dan Informasi
TTD
SURATMAN, S. Kom
NIP. 19740212 199603 1 001